Jumat, 12 Februari 2021

ADAB BERBICARA DENGAN LAWAN JENIS

 Pada zaman Rasululullah Shallallahu alaihi wa sallam dan shahabat, banyak kisah istri-istri Rasulullah yang berbicara dengan para shahabat. Misalnya ketika memberi jawaban atas suatu pertanyaan tentang Islam. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah radhiyallahu'anha atau sang Ummul Mukminin juga menjadi guru bagi para shahabat.

Dalam melakukan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kita bisa meneladani sikap para istri nabi. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,"(QS Al-Ahzab : 32)


tunduk disini tidak dilembut2kan, biacara apa adanya, tdk merayu.

Apakah pertemuan tersebut berhijab / terbatasi, atau bertemu langsung tatap muka, tidak dijelaskan, yang penting adalah sikap yang harus ditampilkan saat terjadi komunikasi.

Tentang khalwat .

Definisi umumnya khalwat adalah menyendiri, bersembunyi dari manusia.

1. Nabi berkhalwat 40 di gua Hiro.

2. Laki-laki berkhalwat dengan perempuan dilarang karena ketiganya adalah setan.

Bagaimana untuk menghindari setan? kembali lagi yg penting sikap yang harus ditampilkan saat terjadi komunikasi dan tentunya materi yg dikomunikasikan, jika materinya adalah hal-hal yg bermanfaat dan tidak bertentangan dengan agama, misalnya berbagi ilmu baik ilmu agama atau ilmu dunia misalnya matematika, fisika, pengetahuan alam, kesehatan ,informasi bencana dsb.

Perbuatan dosa urusan pribadi masing2 hanya Tuhan yg tahu dan dirinya.

Jangan menghalalkan yang diharamkan, jangan mengharamkan yang halal.

Pernah suatu kali Rasulullah SAW keceplosan mengatakan tidak akan meminum madu. Beliau SAW hendak mengharamkan meminum madu bagi dirinya sendiri karena kerap berpotensi konflik dari istri-istri Beliau SAW. Ketika itu Beliau SAW langsung mendapatkan teguran Allah SWT dalam Alquran, "Hai Nabi, mengapa engkau haramkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau hendak mencari kesenangan hati istri-istrimu." (QS at-Tahrim [66]: 1).

HIERARKI BERISLAM

TUJUAN PENCIPTAAN 
1. ”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adzariyat : 54) 
2. إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً "Sesungguhnya, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS Al- Baqarah: 30). 

Protesnya malaikat ; "Mengapa Engkau hendak menciptakan manusia, apakah manusia tersebut hanya akan berbuat sesuatu yang merusak di atas bumi, saling membunuh dan bermusuhan satu sama lain, sedangkan Engkau tahu bahwa kami selalu berzikir dan mengagungkan asma-Mu ya Allah” 

 Allah SWT kemudian berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". manusia diberikan potensi kepemimpinan yang luar biasa, diberikan akal pikiran sehingga mampu memanfaatkan sumber daya alam dan menciptakan suatu peradaban. Allah maha mengetahui maka Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi. 

kata kunci ....membuat peradaban...tentunya dimana aturan2 Tuhan di tegakkan. Peradaban yang tidak sesuai dengan aturan Tuhan akan dihancurkan.
Adanya peradaban karena ada manusia berkembang biak. karena manusia dibekali nafsu. tidak mungkin tanpa nafsu makhluk hidup bisa berkembang. itulah mengapa  manusia juga dibekali nafsu selain akal.  Dengan nafsu makan manusia dapat hidup, dengan nafsu syahwat manusia dapat berkembang biak. Yang penting dengan cara seperti apa nafsu tersebut digunakan. makan dan minum tidak boleh berlebihan, menyalurkan syahwat hanya melalui pernikahan.

SYAHADAT
Persaksian terhadap allah dan persaksian terhadap nabi muhammad saw . 
Dengan syahadat manusia berjanji dengan Tuhan akan melaksanakan kehidupannya sesuai dengan aturan agama yang diturunkan ke nabinya, yaitu dengan Quran dan sunah nabinya.

kafir quraiys , nasrani dan yahudi bersakski terhadap allah tapi tdk bersaksi terhadap nabi muhammad saw. 

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124). 

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm.

Tingkat persaksian / membenarkan ;
1. di hati
2. di hati dan lisan
3. di hati, lisan dan perbuatan.

syahid adalah persaksian dengan perbuatan mengorbankan kehidupannya.
sehingga nilainya paling tinggi karena nyawa tidak lebih berarti dari pada persaksiannya.

Persaksian selalu diucapkan dalam solat, bahkan disumpahkan dalam bacaan iftitah.
”..... ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’.” (QS Al-An’am [6]: 162).

Memungkiri quran dan sunnah disebut sebagai maksiat.

Lawan dari beriman adalah kafir/tertutup. Sedangkan munafiq adalah mulut dan kadang perbuatannya beriman tetapi hatinya kafir. Munafiq nerakanya lebih dalam dari pada orang kafir.


CARA PENGAMBILAN HUJJAH
Dalam kesehariannya kita harus mengukur tingkat laku dan sikap agar selalu sesuai dengan quran dan sunah nabinya, perlu dilakukan cara pengambilan dasar hukumnya, sering dikenal sebagai ushul fiqh. Berikut tata urutan pengambilan hujjah atau dasar hukum  sesuai urutan :
1. Al Quran
2. Hadits
3. Ijma keputusan dari beberapa ulama krn masalah tersebut belum ada di quran dan hadits
4. Qiyas, menganalogikan.

Inilah tolak ukur kebaikan dalam kehidupan, jika ada hujjah yang paling atas, jangan mengambil yang dibawahnya. 

jika ada 2 hadits yang sepertinya bertentangan, pahami lebih detil, tarik benang merahnya, jika memang tidak bisa, dan sama2 shohih berarti jangan mengambil hadits tersebut. Terkadang satu nash turun belakangan utk mengoreksi nash sebelumnya.

Yang baik di mata manusia selama tidak sesuai dengan aturan-Nya bukanlah kebaikan yang diinginkan Tuhan.

“Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817).