Pada zaman Rasululullah Shallallahu alaihi wa sallam dan shahabat, banyak kisah istri-istri Rasulullah yang berbicara dengan para shahabat. Misalnya ketika memberi jawaban atas suatu pertanyaan tentang Islam. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah radhiyallahu'anha atau sang Ummul Mukminin juga menjadi guru bagi para shahabat.
Dalam melakukan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kita bisa meneladani sikap para istri nabi. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :
يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,"(QS Al-Ahzab : 32)
tunduk disini tidak dilembut2kan, biacara apa adanya, tdk merayu.
Apakah pertemuan tersebut berhijab / terbatasi, atau bertemu langsung tatap muka, tidak dijelaskan, yang penting adalah sikap yang harus ditampilkan saat terjadi komunikasi.
Tentang khalwat .
Definisi umumnya khalwat adalah menyendiri, bersembunyi dari manusia.
1. Nabi berkhalwat 40 di gua Hiro.
2. Laki-laki berkhalwat dengan perempuan dilarang karena ketiganya adalah setan.
Bagaimana untuk menghindari setan? kembali lagi yg penting sikap yang harus ditampilkan saat terjadi komunikasi dan tentunya materi yg dikomunikasikan, jika materinya adalah hal-hal yg bermanfaat dan tidak bertentangan dengan agama, misalnya berbagi ilmu baik ilmu agama atau ilmu dunia misalnya matematika, fisika, pengetahuan alam, kesehatan ,informasi bencana dsb.
Perbuatan dosa urusan pribadi masing2 hanya Tuhan yg tahu dan dirinya.
Jangan menghalalkan yang diharamkan, jangan mengharamkan yang halal.
Pernah suatu kali Rasulullah SAW keceplosan mengatakan tidak akan meminum madu. Beliau SAW hendak mengharamkan meminum madu bagi dirinya sendiri karena kerap berpotensi konflik dari istri-istri Beliau SAW. Ketika itu Beliau SAW langsung mendapatkan teguran Allah SWT dalam Alquran, "Hai Nabi, mengapa engkau haramkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau hendak mencari kesenangan hati istri-istrimu." (QS at-Tahrim [66]: 1).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar