“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).
Menghindari terhadap hal ini kuncinya adalah selalu menganalisa terhadap keinginan , harapan dan tingkah laku kita. Bisa jadi atas ketidaknyamanan dan kesedihan, kita memanjatkan doa yang justru tidak sesuai dengan syariat Tuhan. Dan yang lebih berbahaya lagi kita menganggap Tuhan sudah mengabulkan doa kita, saat tercapai keinginan tersebut.
Kehati2an dan menjaga ketaqwaan menghindari melarang terhadap hal-hal yang sebenarnya disyariatkan. Kalau menghidari hal-hal yang dilarang, sudah clear, tetapi menghalang-halangi hal-hal yang dihalalkan, sering tidak kita sadari. Bukankah ini yang disebut melampaui batas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar