Senin, 01 Maret 2021

Tugas Ayah

 “Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6).

Kalau sekedar memberi makan, para induk hewan juga melakukan, klo sekedar melindungi keluarga dari hujan dan panas, hewan pun demikian.

Namun melindungi dari api neraka, hal yang sangat berat.

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka”. 

Sementara Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimuhum)”.

Sedangkan Muqatil dan Ad Dhahak berkata, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.( Tafsir Ibnu Katsir: 4/391 ). 

Dari Sâlim bin Abdullah bin Umar, berkata: Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma bercerita kepadaku bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga orang yang Allâh haramkan surga untuk mereka: pecandu khmar (minuman keras), anak yang durhaka, dan dayûts, orang yang membenarkan keburukan di keluarganya”. [HR. Ahmad, no. 5372, 6113. Dishahihkan oleh syaikh Syu’aib al-Arnauth di dalam Takhrij Musnad Ahmad]

Membenarkan keburukan di keluarganya, ukuran keburukan tentunya adalah alquran dan hadits, yang melanggar atau menentang kedua sumber hukum tersebut itulah keburukan.

Seringkali kita harus mengalah terhadap istri dan anak, bahkan terkadang hal-hal yang jelas melanggar atau menentang hukum2 Tuhan.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. [At-Taghâbun/64:14]

Inilah mengapa : 

1. istri yg sholehah adalah perhiasan terindah.

2. kita disuruh menikahi wanita yg beriman , "Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu." (QS Al Baqarah: 221).  karena wanita yang beriman tidak akan menghalangi suami untuk menjalankan agamanya.

3. kita disuruh berdoa "Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa." supaya aturan agama bisa ditegakkan dalam kehidupan islaminya.

semuanya dalam rangka menuju keselamatan akhirat.


kita setiap hari disuruh berdoa 



Pengertian baru Mualaf

Menarik seorang Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yunahar Ilyas menyampaikan pemikirannya tentang pengertian mualaf, bukan sekedar orang yg baru masuk islam.

https://www.republika.co.id/berita/ocnrat313/siapa-yang-disebut-mualaf

QS. At-Taubah Ayat 60
Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah.

Abu Bakar ra, Umar Bin Khattab ra sekalipun baru masuk islam bukan kategori mualaf.

kata kuncinya yang dilunakkan hatinya.

fenomena di masyarakat saudara muslim kita  kebanyakan yg 'terdidik' scr 'alakadarnya' di masyarakat, tidak memahami tentang islam sebagai tuntunan hidup, hanya sekedar label di ktp. Saat terjadi kesulihatan hidup, baru mau solat. Disaat2 spt itu, kesempatan untuk melunakkan hatinya, untuk lebih beriman dan berislam lebih bagus, ibaratnya sebagai jalan masuk.
Makanya melalui zakat dan sedekah wajib kita berikan ke mereka.

Jika zakat dan sedekah dilakukan setahun sekali, pasti ga akan ngefek ke mereka yang sedang ditimpa kemalangan.

Kisah Abu Bakar ra membebaskan bilal budaknya umayah, contoh dari solusi yang pas dari menyelamatkan mualaf. beliau tidak berkeberatan dengan harga tinggi, saat umayah meledek kebodohan abu bakar dengan harga tingginya, beliau menjawab "Umaiyah, tahukah engkau, jika engkau meminta harga 10 kali lipat dari sekarang, niscaya aku akan membayarnya juga," . Ini salah satu legitimasi kita boleh sombong dengan orang kafir.

Kefakiran lebih condong kepada kekafiran

ini sering kita dengan dan tentu menjadi tanggung jawab umat islam semua. Inilah mengapa pencuri tidak dihukum selama hanya untuk keperluan makan, dan si kaya justru yang disalahkan. Inilah juga yang menjadikan mengapa satu kampung akan berdosa jika ada warganya yang mati kelaparan.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 82]

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perjanjian yang mengikat antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadirs ini hasan shahih.) [HR. Tirmidzi, no. 2621 dan An-Nasa’i, no. 464. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]

Bukankah banyak fenomena di masyarakan meninggalkan solat karena lebih mementingkan mencari nafkah karena keluarganya sedang kelaparan. Bukankah itu mengarah kepada kekafiran?